Kunjungi Anak-anak di Pengungsian, Mensos: Tanamkan Budaya Sadar Bencana Sejak Dini
Humas Jabar
Sosial dan Politik

Kunjungi Anak-anak di Pengungsian, Mensos: Tanamkan Budaya Sadar Bencana Sejak Dini

Admin
30 January 2018
20
0

Jakarta (28 Januari 2018) - Menteri Sosial Idrus Marham bergegas menghampiri tenda bermain anak-anak, sesaat tiba di lokasi pengungsian korban gempa di Desa Kuta, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu siang (27/1). Ia mendekat pada kerumunan bocah yang berebut mengulurkan tangan kanannya bersalaman dengan sang Menteri. Idrus pun melayani mereka satu persatu. "Anak-anak sudah makan semua? Hari ini tetap masuk sekolah kan?," sapa Mensos seraya mengusap kepala seorang bocah laki-laki berusia sekira 10 tahun. Bocah berseragam kaos olahraga berlengan panjang itu mengangguk seraya meraih dan menempelkan punggung tangan Idrus di keningnya. Selama beberapa menit Mensos berdialog dengan anak-anak. Ia menanyakan tentang kondisi bangunan sekolah mereka setelah terjadi gempa, juga tentang keberlangsungan kegiatan belajar di sekolah. Mensos kemudian beranjak menuju lokasi penyerahan bantuan kepada warga terdampak gempa. "Anak-anak adalah salah satu kelompok rentan dalam sebuah bencana. Oleh karena itu segera setelah terjadi bencana saya minta Tim Layanan Dukungan Psikososial Kemensos memberikan trauma healing kepada anak-anak," tutur Idrus serius. Mensos menyebutkan layanan dukungan psikososial merupakan hal penting yang tidak boleh diabaikan dalam penanganan bencana. Hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Dalam pasal 25 dijelaskan bahwa pemenuhan hak dasar bagi korban bencana adalah pemenuhan kebutuhan air bersih dan sanitasi, sandang, pangan, pelayanan kesehatan, pelayanan psikososial dan penampungan serta tempat hunian. "Saya juga tekankan bahwa dalam proses pemberian layanan psikososial anak-anak harus diajarkan pula tentang pengetahuan dan keterampilan dasar dalam menghadapi bencana," katanya. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terdapat 386 kabupaten/kota di zona bahaya gempa bumi sedang hingga tinggi. Terdapat 233 kabupaten/kota di rawan tsunami, 75 kabupaten/kota terancam erupsi gunung api. Kemudian sebanyak 315 kabupaten/kota di daerah bahaya sedang-tinggi banjir, dan 274 kabupaten/kota daerah bahaya sedang-tinggi bencana longsor. Oleh karena itu, lanjut Mensos, sebagai nergara yang rawan bencana, masyarakat harus tangguh dalam menghadapi bencana. "Dan untuk mendorong masyarakat sadar bencana, harus ditanamkan sejak dini," tegasnya. Sementara itu beberapa anak di pengungsian di Desa Kuta, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dalam pengakuannya kepada tim psikososial Kemensos mengalami rasa takut berada di dalam rumah. Saat ditanya mengenai kronologi kejadian, tiba-tiba mereka menunduk terdiam dan mata berkaca-kaca. Alfiyah (10) misalnya, siswi SDN Sukagalih 3, Megamendung, Bogor ini masih sering teringat kejadian gempa. Ia mengaku pada saat kejadian berada di depan rumah, bermain bersama teman sebayanya. Tetiba ibu dan ayahnya berlari ke luar rumah dan memeluknya erat. "Saya bingung melihat orang-orang berteriak dan lari meninggalkan rumah. Saya sempat melihat motor bapak di dalam rumah terguling. Saya takut sekali," ujar bocah berkerudung ini. Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial, Harry Hikmat mengatakan terapi psikososial bagi korban gempa terutama anak-anak harus dilakukan sedini mungkin. Sebab luka jiwa yang membekas pada anak-anak akan menimbulkan perasaan seperti lebih sensitif, mudah takut, mudah curiga, tidak percaya, dan trauma. "Trauma ini jika tidak segera diterapi maka dikhawatirkan dalam jangka panjang mempengaruhi mental, pandangan, dan reaksi emosional korban," katanya. Seperti diketahui, gempa bumi berkekuatan 6,1 SR terjadi pada hari Selasa (23/1) pukul 13.34 WIB. Sebanyak tujuh kabupaten terdampak gempa yakni Provinsi Jawa Barat meliputi Kabupaten Bogor, Sukabumi, Cianjur. Sementara di Provinsi Banten meliputi Kabupaten Lebak, Pandeglang, Serang, Tangerang. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial (Ditjen Linjamsos), jumlah korban meninggal sebanyak 2 orang, korban luka-luka sebanyak 16 jiwa, dan 878 jiwa mengungsi. Jumlah pengungsi terbanyak di Kabupaten Lebak sebanyak 460 jiwa, Kabupaten Bogor sebanyak 378 jiwa, dan Sukabumi sebanyak 40 jiwa. Guncangan gempa juga menyebabkan 602 rumah rusak berat dan sebanyak 3.284 rumah rusak ringan. Usai menemui anak-anak dan menyalurkan bantuan, Mensos menghampiri Dapur Umum Lapangan Kemensos RI yang berjarak sekira lima langkah dari tenda anak-anak. Untuk beberapa detik lamanya ia mengamati nasi di sebuah wadah besar dan berbagai lauk pauk hasil masakan relawan Taruna Siaga Bencana (TAGANA) bersama ibu-ibu kader posyandu setempat. Melihat tumis jengkol ikan teri dan tahu tempe, Idrus kemudian menerima piring dan sendok plastik yang disodorkan seorang ibu berseragam kaos TAGANA. "Waah ini nikmat sekali, ini enak rasanya tidak kalah dengan rasa makanan bintang lima. Ayo anak-anak, bapak ibu dan teman-teman media kita makan siang di sini," ujar Mensos kepada awak media. Sambil menikmati makan siangnya, Idrus menceritakan kepada media tentang Dapur Umum Lapangan Kemensos. Ia mengungkapkan kebutuhan logistik para korban bencana tidak bisa dianggap sepele. Tidak jarang malah berdampak buruk, jika logistik yang ada tidak dikelola dengan baik. Karenanya peran Dapur Umum Lapangan yang dikelola TAGANA ini sangat penting. Bahkan satu jam setelah bencana harus mulai disiapkan untuk melayani kebutuhan permakanan pengungsi. Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Sosial RI Sumber : https://www.kemsos.go.id

Komentar


Tambah Komentar

Email anda tidak akan dipublikasikan

Berita Terkait

;