Transportasi Massal Jadi Topik Utama Penandatanganan MoU Jabar - Guangxi Zhuang

08 May 2017 | 1908 VIEWS

NANNING -- Sistem dan alat transportasi Guangxi Zhuang m‎enjadi isu menarik dalam penandatangan MoU (nota kesepahaman bersama) antara Provinsi Jawa Barat dan Guangxi Zhuang. Jabar sendiri di antaranya tertarik menerapkan pemberlakuan motor listrik di perkotaan serta bakal menawarkan sistem transportasi dan alat transportasi di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) nanti ke provinsi Guangxi Zhuang.

Ini bukan tanpa alasan. Provinsi yang dipimpin oleh Gubernur Chen Wu itu ternyata memang memiliki sistem transportasi yang sangat berkembang mulai dari industri otomotif yang sudah menghasilkan 2 juta unit pertahun, pelabuhan terbesar di Tiongkok dan sudah beberapa kali mendorong peningkatan kapasitas pelabuhan di negara lain yang bekerja sama dengan mereka, serta kereta api cepat dengan jalur sepanjang 1750 km.

Selain itu salah satu investor otomotif asal Guangxi Zhuang, Wu Ling, telah memiliki pabrik di Bekasi. Saat prosesnya, Gubernur Chen Wu sendiri sempat berkunjung ke Jabar dan bertemu dengan Pemprov Jabar dan inilah yang menjadi cikal bakal sister province yang ditandatangani kedua belah pihak di Li Yuan Resort, Nanning, Jumat (5/5/2017) waktu setempat. Saat itu, penandatanganan dari tuan rumah diwakili oleh Wakil Gubernur Guangxi Zhuang,  Zhang Xiaoqin‎.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) mengatakan, Sister Province ini merupakan kelanjutan pertemuan mereka pada 26 Oktober 2015 ketika gubernur Chen Wu datang ke Delta Mas Bekasi, Jabar. Tahun ini perusahaan otomotif dengan merek produk Wu Ling itu akan diresmikan.

"Mudah-mudahan (MoU) ini tonggak kerja sama dengan baik dan disusul kerjasama-kerjasama lainnya," jelas Aher  sebelum penandatanganan MoU.

Diakui dia, pihaknya mengagumi dengan perkembangan sistem transportasi di Guangxi Zhuang yang telah memiliki kereta cepat dengan jarak yang sangat jauh, sementara di Indonesia khususnya baru mau membangun kereta cepat tersebut.

‎"Mudah-mudahan segera terlaksana," ujarnya.

Selain itu, kata Aher,  pihaknya pun siap menjalin kerja sama dalam bidang informatika karena Jabar memiliki pakar-pakar tersebut. Dengan keterbukaan‎ sharing informasi dan teknologi tersebut diharapkan Jabar atau sebaliknya sama-sama bisa lebih maju.

"Setelah agreement ini mudah-mudahan ketemu lagi pada peresmian pabrik di Bekasi. Nanti bentuk tim bersama antara Guangxi dan Jabar merumuskan kerja sama yang lebih nyata,” kata Aher.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat Dedi Taufik menambahkan, pihaknya memang akan menawarkan sejumlah pelabuhan di Jabar yang akan dibangun dan yang di antaranya masih dalam tahap dibangun untuk dikerjasamakan dengan Guangxi Zhuang.

"Ya kan kita ada Pelabuhan Patimban, Pelabuhan Ratu Rehional Seaport, Cirebon, Seaport, Cikarang-Bekasi-Laut Inland Waterways, Bojong Salawe Regional Seaport, dan Palangpang Local di Ciletuh," katanya.

Selain itu, pihaknya pun akan menawarkan kerja sama pengelolaan transportasi bandara di Kertajati nanti kepada Guangxi Zhuang. Mereka bisa menggunakan kendaraan bermerek Wu Ling itu di bandara untuk sarana transportasi di sana. 

"Misalnya kerja sama pengelolaan selama hitungan tahun yang pastinya itu harus dibicarakan lagi usai MoU ini," kata dia.

Sementara itu, Wakil Gubernur Guangxi Zhuang mengatakan, pihaknya mengapresiasi atas respon kerja sama dengan Jabar tersebut.

"Sekarang Indonesia sedang ada di Zaman yg paling bagus. Strategi jalur sutra Maritim ini cocok dengan strategi kelautan Indonesia juga," ujar dia.

Dia menuturkan, provinsinya merupakan satu-satunya provinsi yang berbatasan dengan lautan dan daratan dan dengan Asean. Pihaknya menempati pembangunan strategi di China dan Asean.

"Provinsi ini merupakan satu-satu jalan pelabuhan. Sejak yahun100 SM, kapal-kapal China sudah ke Asean dari pelabuhan ini. Kami sekarang sedang membangun penguhubung jalan laut dan infomasi di Asean atau konektivitas dengan negara-negara Asean," kata dia.

Di negara Asean, lanjut dia, terdapat 47 pelabuhan yang sudah menjadi anggota perhimpunan pelabuhan di Guangxi Zhuang.

"Pelabuhan kami sedang ikut bangun pembangunan di Malaysia dan Brunei. Kami mendorong kapasitas pelabuhan itu dari 30.000-50.000 ton dengan cepat. Kami pernah ikut membangun pelabuhan di satu daerah, hanya dalam satu tahun saja, kapasitas pelabuhan itu sudah naik jadi dua kali lipat," ujar dia.

Diakui dia, salah satu perusahaan pelabuhan indonesia ada yang investasi pada pelabuhan dikota ini, terutama transportasi dalam sungai.

"Kami berharap bisa membuka jalur laut dari sini ke Indonesia,"ujar dia.

Selain itu, diakui dia, pihaknya saat ini sedang mempercepat pembangunan kereta cepat yang saat ini trasenya sudah sepanjang 1750 km. Di provinsi tersebut sudah memiliki dua jalur kereta cepat untuk melayani 14 kota.

"Kereta cepat itu sudah sangat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kami tahu, di Indonesia sedang bangun kereta cepat Jakarta-Bandung. Kami berharap ketika kami kesana bisa naik kereta cepat dari Jakarta ke Bandung," ucap dia.

Selain kerjasama pada bidang transportasi, pada MoU tersebut kedua belah pihak akan kerja sama dalam ruang lingkup pariwisata, pendidikan, budaya, perdagangan dan teknologi. 

 

HUMAS JABAR