Kedubes Indonesia di Tiongkok Nilai Jabar Tepat Bekerjasama dengan 4 Provinsi di Tiongkok

12 May 2017 | 1729 VIEWS

BEIJING -- ‎Kedutaan Besar Indonesia untuk Tiongkok menilai empat kerja sama Sister Province antara Jawa Barat sudah tepat. Seperti diketahui, Jabar telah meneken empat MoU dengan Guangxi Zhuang, Chongqing, Sichuan, dan Heilongjiang selama sepekan ini.

Dubes Indonesia untuk Tiongkok, Soegeng Rahardjo menuturkan, keempat provinsi yang ada di wilayah Barat Tiongkok tersebut memiliki karakter yang sama dengan Jawa Barat mulai dari kultur pertanian, pariwisata dan juga industri manufakturnya.

"Banyak yang bisa dimanfaatkan dari kerja sama Sister Province tersebut. Misalnya di Chengdu itu pertanian, ada pabrik pakan terrnak yang cukup besar,‎ Harbin memiliki teknologi penerbangan, di sana ada pusat teknologinya. Jadi saya nilai Jabar kerja sama dengan titik-titik yang tepat untuk tumbuh kembangkan Jabar agar Jabar bisa maju khususnya dan Indonesia pada umumnya," ujar Soegeng yang ditemui usai menerima rombongan Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Kedutaan Indonesia untuk Tiongkok, di Beijing, Kamis (11/5/2017).

Meski demikian, Soegeng mengingatkan ada tiga hal lain yang harus Jabar lakukan selama menjalin sister province dengan keempat provinsi di Tiongkok tersebut yaitu menjalin kerja sama dengan pimpinan atau tokoh komunitas-komunitas di Tiongkok. Selain itu, menjalin informasi dengan akademisi dan tokoh pemuda di sana.

"Untuk bisa memanfaatkan keunggulan dengan Tiongkok selama ini harus diakui perlu bejar dengan mereka. Pembelajaran ini bisa didapat darii tokoh masyarakat, akademisi, dan tokoh-tokoh pemuda sehinga memiliki bisa memanfaatkan kerja sama dengan maksimal. Jadi kerja sama tidak hanya pada level pemerintah saja, melainkan dengan masyarakatnya juga agar ada ada persepsi dan understanding yang sama soal Tiongkok ini," papar Soegeng.

Di sisi lain, Soegeng pun mengungkapkan ada beberapa provinsi dan kota di Indonesia yang juga menjalin sister province maupun sister city dengan Tiongkok. Di antaranya Jawa Timur dengan Nanjing, Jawa Tengah dengan Fuchian, serta Sidoarjo.

"Mereka di antaranta seperti Jatim sudah memiliki pusat pemasaran produk-produk asal Jatim di Nanjing,"ujar dia.

Meski demikian, Soegeng menilai Jabar merupakan provinsi yang agresif dalam memanfaatkan kerja sama tersebut dan harus terarah. 

Soegeng berharap pada Jabar untuk intens komunikasi sebagai tindak lanjut kerja sama tersebut. 

"Jadi tidak hanya sekali datang tapi bagaimana kita banyak belajar agar berbagai peluang dan manafaat bisa didapat dengan maksimal. Saya setuju dengan gubernur hal yang paling penting berikan tindak lanjut dengan buat tim antara dua belah pihak. Untuk melihat berbagai hal apa saja yang bisa dikerja samakan yang cepat dengan jabar dan tiongkk sehinga arah kerja sama ke depan bisa terarahkan," katanya.

 

Produk Halal Jabar

Lebih lanjut Soegeng Rahardjo menyarankan Jawa Barat memasarkan produk halal unggulan‎ ke Sichuan. Pasalnya di sana terdapat daerah muslim yang bisa menjadi pangsa pasar produk halal dari Jawa Barat. Hal itu sebagai upaya agar hubungan sister province antara Jabar dan Sichuan semakin kuat.

Diakui dia, Jawa Timur sudah memulai memasarkan produk mereka di Tianjin. Jabar jika berminat bisa‎ menawarkan produk unggulannya di Chengdu.

"Nanti ditawarkan di satu gedung untuk display produk kita. Kalau Jabar mau bisa ke Chengdu juga. Kenapa saya bawa itu ke Sichuan, karena di sana itu ada daerah muslim semua di perbatasan. Sementara itu kan provinsi yang ingin disasar Jabar, produk Jabar yang halal food itu besar potensinya dan belum digarap," katanya.

Diakui dia, gerakan tersebut sudah lebih dulu dilakukan oleh Malaysia. Namun Jabar belum terlambat karena pangsa pasar masih terbuka.

"Ke depan mungkin bisa diadakan setiap dua tahun sekali, setahun di sini, setahun di Jabar dengan pameran. Mungkin ini bisa dieksplor. Saya lihat Jatim saja yang agresif di Tianjin," tambahnya.

Dia menambahkan, di Guangxi juga, Bali sudah melakukan hal yang sama.

"Saya rasa yang dilakukan Jabar sekarang, perlu memang dibuat satu tim apa yg diperlukan kita, apa unggulkan kita. Kita belajar. Banyak peluang di sana. Kalau banyak dilakukan, Jabar bakal memiliki banyak keuntungan,"ucap dia.

Selain itu, Jabar bakal mandiri mengembangkan industrinya kedepan.

‎Soegeng pun memberi saran terkait dengan pertanian Jabar terutama dalam mengembangkan tanaman organik karena dalam jangka panjang, masalah asupan tubuh itu akan menarik.

"Jangan hanya kejar satu produksi tapi tidak tahu impactnya. Seperti GMO, bibit yang direkayasa itu ada impact nya,"kata dia.

Yang kedua soal ikan asin, saat ini di Indonesia masih tradisional sementara di Tiongkok sudah menjadi perusahaan, dan packagingnya modern.

 

HUMAS JABAR