Distinasi Wisata Nan Tiada Dua di Belahan Dunia Manapun

05 Jan 2015 | 15076 VIEWS
JABAR INFO - Ada satu kekurangan kunker lapangan atau kukurusukan perdana Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan pada 2015. Hal ini sungguh "mengecewakan" Aher, meski tim yang diboyongnya lengkap dari sisi lintas sektoral.
 
Selain bersama pejabat Sekretariat Daerah dan kedinasan Jabar terkait, Kapolda Jabar Irjen Mochammad Iriawan dan Kasgar Tap II Bandung Marsma TNI Imron Nasution juga menjadi bagian tim kunker. Kelengkapan personel ini membuat Aher dapat cepat menyusun langkah koordinatif atas permasalahan yang ditemuai di lapangan.
 
Lalu, masalah apa yang menyebabkan Aher "gundah"? Soal ini ternyata dipicu oleh cuaca kurang bersahabat ketika ia dan rombongan berada di Ciletuh, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi.
 
Di titik kilometer 496,3 perjalanan kukurusuhan, tepatnya pada hari kedua, Gubernur Aher dan lainnya tak dapat leluasa menyaksikan keindahan luar biasa taman bumi atau Geopark Ciletuh.
 
"Tadi hujan deras, kabut turun jadinya. Kita akhirnya tidak bisa melihat keindahan geopark ini," tutur Aher, datar. Lanjutnya, "Ada beberapa curug (air terjun) di sana. Satunya menyerupai Niagara (Amerika Serikat). Namun, saya rasa, di sini lebih indah."
 
"Kekecewaan" Aher mudah dimaklumi karena salah satu puncak keindahan dan keunikan bumi Jabar ini, menjelang pengakuan resmi organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (Unesco), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebagai salah taman bumi dunia.
 
Bupati Sukabumi Sukmawijaya bersama akademisi Universitas Padjadjaran (Unpad) akhir 2014 lalu menuju Kanada. Di sana, Sukmawijaya dan tim Unpad mempresentasikan profil Taman Bumi Ciletuh di hadapan ahli Unesco, yang menangani pelestarian situs warisan dunia (world heritage sites).
 
Atas paparan mereka, Bupati Sukmawijaya optimistis Taman Bumi Ciletuh memenuhi persyaratan untuk diakui resmi sebagai geopark dunia. Geopark Ciletuh memiliki kekayaan aneka geologi. Bahkan, katanya, fosil Ciletuh mengandung informasi usia bumi.
 
Gayung positif bersambut, Presiden Geopark Wilayah Asia Pasifik Ibrahim Kommo telah mengunjungi langsung berlian pariwisata Jabar --bahkan Indonesia-- nun jauh di pelosok Sukabumi tersebut. Kommo tiba di Sukabumi pada 22 Desember lalu.
 
Selain di Ciletuh, terdapat dua cagar alam geologi serupa di Pulau Jawa. Masing-masing di Karangsambung, Kebumen, dan di Bayat Klaten. Keduanya di Jawa Tengah.
 
Walaupun potensi serupa di Karangsambung telah diperkenalkan lebih dahulu, Geopark Ciletuh memiliki keistimewaan khusus, yang tidak dimiliki taman bumi lain di dunia. Ciletuh mempunyai dua lempeng bumi yang berbeda: samudera dan benua. Bukan cuma ini, hamparan bebatuan tua unik juga berada di komplek Gunung Beas, Gunung Badak, dan Gunung Citireun.
 
Gugus bebatuan Geopark Ciletuh berusia pra-tersier alias zaman kapur. Usianya antara 55 juta hingga 65 juta tahun lalu. Kandungan fosil dan bentangan alam serta proses geotektonik yang membentuk taman bumi ini nyaris tak ditemukan di belahan dunia manapun.
 
Mengenai jarak yang lumayan jauh dari kota, yakni sekitar 135 km dari pusat Kota Sukabumi, Gubernur Jabar memahaminya sebagai tantangan yang harus dijawab. Pihaknya pada tahun ini akan memperbaiki jalan menuju Ciletuh. Selain memuluskan permukaan jalan, Bina Marga Jabar akan melebarkan beberapa ruas. "Anggaran dari pusat juga dialokasikan di sini," ujarnya.
 
Sementara tuntutan transportasi udara yang memungkinkan wisatawan lebih cepat menuju Ciletuh, Aher langsung mengoordinasikan dengan Kasgar Tap II Bandung Marsma TNI Imron Nasution saat kunkernya berlangsung.
 
Selama ini disebut-sebut, Pemprov Jabar akan bekerjasama dengan TNI-AU untuk mengoperasional bandar udara di Sukabumi. Kebutuhan pengembangan pariwisata menjadi salah satu tuntutan atas bandara dimaksud.
 
Geopark Ciletuh, masih menurut Aher, bukan sekadar potensi pariwisata dan gudang ilmu pengetahuan kebumian yang dahsyat. "Bagaimana kita memperlakukan Geopark Ciletuh, itu menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Karenanya, pemerintah provinsi sangat serius menangani Ciletuh," papar Aher.
 

Berburu Target
 
Jabar telah menargetkan akan menggaet 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) pada 2019. Optimisme ini didasari peningkatan angka kunjungan wisatawan nusantara (wisnu) tahun demi tahun.
 
Menteri Pariwisata Arief Yahya saat berada di Cirebon (5/1/2015) menyatakan tekadnya untuk mendukung pencapaian target tersebut. Arief lalu mendorong seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) kepariwisataan di Jabar untuk mengasah kreativitas mengemas potensinya.
 
Selama tiga tahun terakhir, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisman ke Jabar melalui Bandara Husein Sastranegara dan Pelabuhan Muarajati terus naik. Pada 2010 kunjungan wisman sebanyak 92.479 orang, 117.550 orang (2011), dan naik signifikan pada 2012 menjadi 148.445 orang (26 persen). Angka-angka ini memang masih jauh dari target di atas.
 
Namun, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar melansir angka kunjungan wisman secara keseluruhan --termasuk melalui jalur darat-- berada di atas 600 ribu orang, sejak 2013. Sementara total wisatawan berada di atas 40 juta orang per tahun. Angka 2014 dipastikan naik.
 
Berdasar data Disparbud tersebut, target kunjungan wisman 2019 bukan mustahil terkejar.
 

Potensi Baru
 
Pada kukurusukan-nya, Gubernur Aher memonitor langsung kondisi potensi pariwisata baru. Strategi ini dilakukan untuk membuka ruang keragaman destinasi, selain mengupayakan pembenahan optimal kawasan kunjungan yang dikenal selama ini.
 
Selain mengunjungi Geopark Ciletuh, Aher juga menyaksikan objek wisata pantai Gua Lalay di Rancabuaya, Kabupaten Garut. Bentangan pantai ini dapat dinikmati dari Puncak Guha. Tahap pertama, areal seluas 11 hektar dibenahi lebih dahulu.
 
"Pantai ini kita harapkan menjadi pusat rekreasi baru. Pantai dan gua khasnya memadai untuk dikembangkan," kata Gubernur, seraya menambahkan pihaknya segera berkonsultasi dengan ahli pariwisata untuk desain pengembangan.
 
Untuk aksesibilitas ke lokasi, Gubernur dan jajarannya telah menjelajahi kondisi jalan yang relatif mulus berkat pembenahan infrastruktur dari tahun ke tahun. Karena, kata Aher, dalam beberapa tahun ke depan, obyek wisata bahari Gua Lalay mulai dapat dikunjungi wisatawan.
 
Strategi lain dikemukakan Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar saat mengunjungi Kabupaten Pangandaran, belum lama ini. Kabupaten termuda Jabar ini telah dikenal dunia melalui wisata baharinya. Namun, menurut Deddy, insan pariwisata seharus mampu menggali "spot seksi" kawasan yang dimilikinya.
 
Wagub Deddy menjelaskan Pangandaran sebenarnya memiliki potensi lain yang justru tidak dimiliki objek pariwisata lainnya. Kekayaan yang dimaksud yakni gugusan ratusan gua alam. Sebanyak 115 gua di antaranya telah bernama, sementara sejumlah lainnya belum diinventarisasi.
 
Sementara itu, Gubernur Aher mengungkapkan salah satu poin hasil kukurusakan membuka lembaran kerja 2015, yakni perlunya masyarakat menumbuhkan budaya lokal yang menunjang sektor pariwisata.
 
"Salah satu budaya yang dituntut sektor pariwisata adalah ketertiban dan kebersihan, di samping keramahan yang sudah kita miliki. Bagaimana wisatawan datang dan betah bila warga tidak membiasakan diri tertib dan disiplin menjaga kebersihan?" tandas Aher lagi.
 
Terang sudah, potensi pariwisatra Jabar memang sagala aya (semuanya ada) dan berkelas dunia.