Cultural Industry, Peluang Pengembangan Usaha Kaum Muda

16 Apr 2017 | 3648 VIEWS

KOTA BANDUNG – Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar (Demiz) menjadi keynote speaker dan membuka Seminar Kompetisi Business Plan yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung (Unisba) di Kampus Unisba, Jl. Tamansari No. 1, Kota Bandung, Minggu (16/4/17). Di hadapan ratusan mahasiswa peserta seminar ini Demiz mengungkapkan ada empat besar bidang usaha yang menjadi sumber pendapatan devisa negara, yaitu minyak dan gas (migas), batu bara dan bio energy, kelapa sawit, dan pariwisata (cultural industry).

Demiz menjelaskan bidang migas mempunyai tren penurunan karena harga minyak dunia turun. Begitu juga dengan batu bara dan bio energy, serta kelapa sawit, karena harga yang berlaku dipasaran dunia saat ini sedang ada tren penurunan.

“Saya kasih gambaran, usaha-usaha apa yang sekarang ini sedang berkembang. Menurut data ada empat pendapatan (devisa) negara yang terbesar dan ada kecenderungan-kecenderungan yang harus diamati. Pertama, migas tapi kecenderungannya menurun beberapa tahun belakangan ini karena hancurnya harga minyak bumi,” ungkap Demiz.

“Kedua, batu bara dan bio energy. Itu juga kecenderungannya menurun karena harganya yang anjlok. Begitu juga kelapa sawit (ketiga). Yang keempat, pendapatan devisa negara cenderung meningkat dari sektor pariwisata. Dan kita sangat besar sekali potensinya mengembangkan pariwisata,” lanjutnya.

Bidang pariwisata menjadi fokus perhatian saat ini, terlebih Pemerintah Pusat menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara hingga 20 juta pada tahun ini. Fokus pariwisata yang bisa menjadi peluang yaitu cultural industry atau industri berbasis budaya atau kreatifitas. Industri kreatif tengah digeluti banyak kalangan, khususnya kaum muda. Mulai dari kuliner, fashion, seni dan budaya, dan sebagainya.

Industri berbasis seni dan budaya mempunyai potensi besar untuk dikembangkan, khususnya di Jawa Barat. Jawa Barat memiliki beragam budaya atau multi cultural, sehingga ada tiga zona besar yang ada, yaitu zona budaya Kecirebonan, Melayu-Betawi, dan Sunda.

“Pariwisata berbasis cultural industry, berbasis budaya. Jadi wisata bukan hanya sekadar alam, tapi juga bagaimana industri budaya tadi yang menjadi basis kekuatan daya tarik kepariwisataan yang ada. Dan Jawa Barat memiliki itu semua, lebih besar dari provinsi lain,” ujar Demiz.

Untuk mengembangkan industri ini perlu infrastruktur yang memadai. Demiz mengaku pihak Pemprov Jawa Barat terus mendorong hadirnya berbagai infrastruktur pendukung. Oleh karena itu, saat ini Jawa Barat mengebut pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Kabupaten Majalengka, serta membangun lima akses jalan tol dari rencana pembangunan 20 jalan tol.

“Kalau jalan tol (pembangunan infrastruktur) lamban, maka kita juga tidak akan bisa bersaing dengan global. Produk-produk itu tidak akan bersaing. Kemudian pariwisata juga akan tersendat karena itu,” tutur Demiz usai membuka acara seminar.

Selain itu, Pemprov Jawa Barat terus mendorong pengembangan kewirausahaan melalui berbagai program pelatihan dan pendidikan. Mulai 2013 lalu Jawa Barat telah mencetak hingga 60 ribu wirausaha baru dengan target akan ada 100 ribu wirausaha pada 2018. Upaya lainnya yaitu mempermudah akses keuangan, seperti melalui kucuran Kredit Cinta Rakyat (KCR) sejak 2011 lalu. KCR sudah mengucurkan kredit hingga Rp 385 Miliar dengan nasabah 13.400 orang dan melibatkan lebih dari 30.000 pekerja dari usaha-usaha yang dirintis para nasabah.

“Ini eranya ekonomi kreatif. Jadi pada saat era ekonomi kreatif ini tumbuh sebagai gelombang keempat ekonomi dunia, ide atau gagasan menjadi lebih penting daripada modal atau capital. Duit akan mencari dimana gagasan itu tumbuh,” pesan Demiz di hadapan ratusan peserta seminar.

“Sekarang ini eranya menjadi pengusaha, karena peluangnya masih besar. Jangan berebut disatu pintu rizki (menjadi pegawai) meskipun pintunya lebar,” pungkasnya.

HUMAS JABAR